Perjuangan Anti Korupsi itu Ternyata 'Pembersihan' Barisan Lawan


Oleh Ust. Yusuf Mansur
Sebagaimana  diketahui, kehidupan sosial, ekonomi, dan politik di Indonesia saat ini diwarnai dengan ketidakpastian dan kemajemukan permasalahan. Wajar memang suatu Negara berjalan dengan permasalahan. Tetapi bila tenggelam dalam permasalahan terus – menerus, itulah yang menjadikan permasalahan di Indonesia menjadi tidak wajar.


Pertentangan antar elite semakin hari semakin memuakan dan menjemukan. Masing – masing pihak sepertinya melupakan esensi kehadiran mereka di pentas kepemimpinan nasional; bahwa mereka hadir bukan untuk ‘belajar’ dan ‘merasa besar’; bahwa mereka hadir adalah bukan untuk mempertentangkan kepentingan pribadi dan melakukan pembelaan – pembelaan dan kepanikan terbuka! Tetapi lebih pada kepercayaan akan kematangan dan kedewasaan berpikir dan bersikap.


Hampir tidak pernah lagi kita mendengar perdebatan yang mengedepankan kepentingan umum, semuanya bersifat self centered, orientasi pribadi dan golongan. Sebagian hal memang diperbincangkan, keadilan dan penegakan hukum memang dipermasalahkan. Tetapi rasanya hanya digunakan sebagai lips service saja. Bahkan yang lebih parahnya, digunakan sebagai muntahan – muntahan peluru yang ditembakan kepada mereka yang berseberangan.


Semangat memberantas KKN dan korupsi adalah bukan karena bagian dari perjuangan antikorupsi dan bukan untuk membersihkan negeri ini dari kutu – kutu dan bajing loncat. Tetapi lebih pada ‘pembersihan’ barisan lawan. Panggung politik dijadikan sarana untuk pembelaan diri, cuci – cuci baju dan bagi – bagi barang dagangan. Hal ini tentu saja lebih buruk ketimbang penyalahgunaan wewenang dan kekuasaan itu sendiri.


Capek kita menyaksikan pementasan drama tanpa ada babak akhir. Capek rasanya kita menanatikan judul berganti. Alih – alih peralihan kepemimpinan adalah sesuatu hal yang ditunggu, demi sebuah apa yang disebut perbaikan dan pembenahan, yang terjadi justru kecemasan dan ketakutan; cemas bila penggantinya adalah mereka yang lagi – lagi masih harus ‘belajar’; cemas dan takut bila mereka yang menggantikan justru mempunyai kelebihan, kelebihan pada keburukannya bukan pada kebaikan. Yakni lebih tidak mau tergantikan, lebih ‘buas’, lebih keras kepala, lebih otoriter dan lebih serakah; cemas dan takut apabila kelak yang menggantikan kepemimpinan  yang ada ini adalah mereka yang merasa besar dan bukan yang berjiwa besar.


Sambil menunggu hadirnya pemimpin yang sehati dengan nasib rakyat kebanyakan, maka sebaiknya kita tidak menunggunya! Sambil menunggu datangnya pemimpin yang arif nan shaleh, maka sebaiknya kita tidak mengharapkannya! Lho? Maksudnya apa ini? Maksudnya, ya tidak usah menunggu hadirnya pemimpin seperti itu! Berjalan saja yang benar dan baik, hingga Dia memberikan kita yang terbaik, termasuk masalah pemimpin bangsa.


Masa depan sepenuhnya ada di tangan sendiri. Buang jauh – jauh mimpi akan datangnya Satria Piningit ataupun Ratu Adil dan bermimpi bisa menggantungkan masa depan kepada satu, dua, atau tiga orang saja din negeri ini.  Kendali nasib hanya ada di motivasi yang kuat akan keinginan mengubah hidup dan kehidupan menjadi lebih baik, bukan pada janji yang tak pernah terbukti. Satria Piningit dan Ratu Adil adalah motivasi hati.


Pada akhirnya, bila ini disepakati kita semua memang harus berpijak pada kaki kita sendiri dan berusaha menggapai kebahagiaan dengan tangan kita sendiri dan berhenti menjadi bangsa pengeluh, yang mengemis bantuan ke sana kemari.


Hanya kepada Yang Satu kita semua boleh berharap, yaitu kepada Allah Rabbul ‘Alamin, Tuhan Pemilik alam ini.Karena siapa pun yang menjadi pemimpin bangsa ini tentu tetaplah ia seorang manusia, bukan Tuhan! Dan manusia adalah manusia. Seberapa agungnya pun kekuasaan dia, seberapa luas pun ilmu dan kebijaksanaannya, dan seberapa banyak pun hartanya, tetaplah ia adalah manusia. Manusia kerap ada dustanya. Manusia pasti ada batasnya.

di sadur dari Buku Membumikan Rahmat Allah karya Ust. Yusuf Mansur hal xxiv - xxvii