PAUD Menanti Janji Pak Lurah Kalibata


Lurah Kalibata yang baru, bapak H. Sori Matogu,SH pada senin kemarin (23/02) melakukan kunjungan ke seluruh tempat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang ada di Kalibata. Salah satunya adalah PAUD Dahlia di RW09 Kalibata. Pak Lurah Kalibata datang dengan baju dinas hijau linmas, didampingi beberapa stafnya. Pak lurah ingin melihat bagaimana dan seperti apa kondisi PAUD – PAUD seKalibata kondisinya. Beliau juga mengatakan bahwa selanjutnya PAUD – PAUD akan terkoordinasi dengan kelurahan, hal ini untuk memudahkan jika  ada yang perlu dibantu dan jika ada bantuan dari atas. Jumlah PAUD seKalibata, ada sekitar tujuh, yaitu PAUD garasi (RW02), assolihin (RW03), sekar melati (RW04), mawar (RW05), melati (RW08), dahlia (RW09), al ijtihad (EW10). Saat ini PAUD seKalibata sudah mempunyai forum yang bernama gugus PAUD seKalibata, gugus tersebut juga tergabung dalam wadah himpaudi kecamatan Pancoran.

Saat kunjungan ke PAUD Dahlia, Pak Lurah mengatakan bahwa PAUD harus terus berjalan, gurunya juga harus sabar karena ini adalah kegiatan sosial. Gaji guru PAUD sering diplesetkan menjadi “sajuta” alias sabar, jujur dan tawakal. Lagi – lagi kami harus mengucap syukur Alhamdulillah, bahwa bulan ini gaji guru dinaikkan menjadi 125 ribu perbulan. Kegiatan belajar mengajar di PAUD Dahlia dilakukan sore, dari senin sampai kamis, semua pembiayaan mandiri dan murni dari SPP murid. PAUD Dahlia berdiri sejak 2010 dan alhamdulillah sudah memiliki tempat yang permanen, selama lima tahun berjalan sudah mendidik 200-an siswa, saat ini ada 35 anak yang sedang belajar di sana.

Harus diakui bahwa beberapa kondisi PAUD di Jakarta masih dibawah kondisi layak, ini ironi ditengah – tengah program 1000 PAUD yang sedang digencarkan pemerintah provinsi DKI Jakarta. PAUD juga dijadikan salah satu dari 10 program unggulan PKK di Jakarta. Sehingga semboyan “Masyarakat otaknya penuh, kantongnya penuh, dan tidak sakit," sepertinya akan hanya menjadi pemanis bibir di media saja, sementara di lapangan sangatlah jauh panggang dari api. Sehingga tujuan menjadikan Jakarta sebagai kota yang ramah anak sepertinya masih jauh.

Seharusnya pemerintah DKI Jakarta bisa lebih perhatian lagi terhadap kondisi PAUD ini, misalnya serius untuk menaikkan kualitas guru PAUD, melakukan kerja sama dengan kampus – kampus, atau juga bisa memberikan beasiswa bagi guru – guru PAUD yang berdedikasi. Pemerintah DKI Jakarta pada tahun 2013, memang pernah berencana meningkatkan gaji guru PAUD agar setara dengan nilai kebutuhan hidup layak (KHL) atau upah minimum provinsi (UMP) DKI saat itu, namun sampai sekarang janji hanya sekedar janji yang mudah diucapkan tetapi sulit terealisasikan.

Berdasarkan Undang-undang No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 1 ayat 14, Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. PAUD dapat diselenggarakan melalui jalur pendidikan formal, nonformal, atau informal. PAUD pada jalur pendidikan formal berbentuk Taman Kanak-kanak (TK), Raudhatul Athfal (RA), atau bentuk lain yang sederajat. PAUD pada jalur pendidikan nonformal berbentuk Kelompok Bermain (KB), Taman Penitipan Anak (TPA), atau bentuk lain yang sederajat. PAUD pada jalur pendidikan informal berbentuk pendidikan keluarga atau pendidikan yang diselenggarakan oleh lingkungan.

Tujuan PAUD adalah membantu meletakkan dasar kearah perkembangan sikap, pengetahuan, keterampilan, dan daya cipta yang diperlukan anak didik dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya serta untuk pertumbuhan dan perkembangan selanjutnya. Berdasarkan hal tersebut tampak jelas bahwa tujuan pendidikan anak usia dini adalah membantu mempersiapkan anak untuk memasuki pendidikan di sekolah dasar. Selain itu, pendidikan anak usia dini juga dapat membantu menanamkan karakter pada anak usia dini. Hal tersebut didasarkan karakter merupakan aspek yang terdapat dalam tiap individu yang akan mengarahkan individu menyesuaikan diri dengan lingkungan yang akan dihadapinya. Pendidikan karakter diperlukan sebagai upaya mengatasi permasalahan-permasalahan kebangsaaan yang berkembang saat ini.

Hasil penelitian menyebutkan bahwa apabila anak jarang disentuh, perkembangan otaknya 20%-30% lebih kecil dari ukuran normal anak seusianya. Selain itu, perkembangan intelektual anak usia 4 tahun telah mencapai 50%, pada usia 8 tahun 80% dan pada saat mencapai usia sekitar 18 tahun perkembangannya telah mencapai 100%. Ini berarti perkembangan yang terjadi pada rentang usia 4 tahun pertama sama besar dengan yang terjadi pada rentang usia 5 tahun hingga 18 tahun atau yang terjadi selama 14 tahun.

Pendidikan anak usia dini dirancang agar anak dapat belajar dalam keadaan suasana hati yang menyenangkan dengan menyediakan kesempatan-kesempatan pada anak untuk menemukan pengetahuan dan benar-benar digunakan melalui bermain. Bermain dengan bahan-bahan, orang dewasa, dan anak lainnya secara terus menerus. Dengan kata lain, anak selalu berinteraksi langsung dengan dunianya dan tidak hanya bermain yang asal bermain, tidak ada pengawasan, dan tidak ada bimbingan.