Saya Mulai Mengaji Usai Membaca “Ketika Mas Gagah Pergi”
Sudah lama saya mendengar banyak hal baik tentang Nasir Jamil, anggota DPRD Nanggroe Aceh Darussalam dari Partai Keadilan. Namun saya belum pernah berjumpa dengannya. Salah satu cerita yang saya dengar adalah saat semua anggota DPRD Aceh diberi jatah uang masing-masing 75 juta rupiah, di luar gaji dari Pemerintah Daerah. Semua anggota menerimanya, tetapi tidak Nasir Jamil. Batin anggota termuda DPRD itu malah teriris. "Saya sungguh tak pantas menerimanya dan tak seorang pun anggota Dewan yang boleh menerimanya pula. Uang itu milik rakyat. Mengapa tak digunakan untuk memperbaiki kehidupan rakyat Aceh yang kini sedang menderita? Mengapa?" tanyanya. Nasir Jamil adalah satu-satunya anggota DPRD Aceh yang dengan tegas menolak uang tersebut. la siap menghadapi resiko apa pun atas prinsipnya itu, termasuk kemungkinan dimusuhi berbagai pihak. "Itu hak rakyat. Uang itu milik rakyat…, kembalikan pada mereka...," katanya dengan mata kaca. Beberapa waktu kemudian persoalan uang...