Modern Tanpa Mengubah Tradisi Nilai


Dikotomi antara tradisi dan modernitas adalah dua hal yang tidak perlu dipertentangkan lagi saat ini. Banyak pihak tidak sependapat bila nilai yang dikemukakan dalam tradisi harus berubah atau diubah dalam rangka apa yang disebut modern. Nilai – nilai tersebut ada yang sudah langgeng dan tetap, malah ada yang abadi atau harus abadi, disamping ada yang berubah. Dalam rangka modernisasi terutama yang bersifat teknis, seperti soal orientasi waktu, sikap statis, orientasi pada nasib, orientasi pada kekuasaan, sangatlah perlu berubah. Apabila ada kekurangan dan ketertinggalan maka haruslah dikejar, dan ini tergantung pada prestasi. Namun nilai dasar yang berhubungan dengan kedudukan manusia, apalagi dalam hubungannya dengan Penciptanya, haruslah tetap abadi. Termasuk di dalamnya keadilan, persamaan, dan persaudaraan.

Dengan pengamatan yang jeli terhadap perjalanan hidup manusia dan bangsa, dapat disimpulkan bahwa masa yang paling rawan dalam kehidupan manusia adalah ketika berlangsungnya masa peralihan. Karena saat itulah ideologi kehidupan yang baru akan diberlakukan, langkah – langkah ke depan mulai digariskan, nilai –nilai dasar kehidupan dimana bangsa akan tegak di atasnya mulai dibangun. Oleh karenanya jika langkah, program, dan sistem nilai yang hendak dibangun itu jelas dan baik, maka berbahagialah bangsa tersebut. Mereka akan menikmati kehidupan yang sarat dengan aktivitas yang mulia dan agung.

Masa peralihan bagi bangsa, paling tidak memiliki dua urgensi. Pertama, membebaskan bangsa dari belenggu penindasan dalam kehidupan politik sampai mereka memperoleh “kemerdekaannya”. Kedua, “menegakan bangunan bangsa” yang harus terus dilakukan, agar eksistensi mereka diakui oleh bangsa lain dan mampu bersaing dengan mereka secara sehat.

Ada sebagian orang yang menuduh bahwa sistem yang kita (Indonesia) anut dalam kehidupan modern ini adalah manjauhkan kita dari negara – negara Barat dan mengeruhkan hubungan politik antara kita dengan mereka (Barat), yang sebelumnya berjalan “harmonis”. Tuduhan tersebut tentu saja tanpa dasar dan merupakan lamunan belaka. Tuduhan – tuduhan tersebut sering muncul dari negara – negara modern di dunia, kadang mereka memang nyata berburuk sangka kepada bangsa kita. Tetapi memang begitulah jalan pikiran mereka, baik kita menggunakan sistem kita maupun menggunakan sistem mereka. Namun jika saja mereka dengan tulus mau memberikan kepercayaannya kepada kita, sebenarnya juru bicara dan para politisi mereka juga sering berkata lantang bahwa setiap negara itu bebas menentukan sistem ideologi yang akan dijadikan pijakannya, sepanjang tidak merampas hak-hak bangsa lain.

Salah satu penyebab yang menjadikan bangsa – bangsa di timur “menyeleweng” dari akar ideologi mereka dan memilih taklid kepada Barat adalah studi yang mereka lakukan terhadap kebangkitan negara – negara Barat. Mereka sampai pada kesimpulan bahwa kebangkitan negara – negara Barat tegak di atas penghancuran akar ideologi seperti agama. Mereka merasa bisa bangkit karena mereka terlepas dari kekuasaan dan cengkeraman pemuka agama, pemberangusan terhadap segala fenomena kepemimpinan agama di masyarakat, dan pemisahan secara total antara urusan agama dengan urusan politik kenegaraan. Kalau memang harus begitu maka apa-apa yang berlaku di negara – negara Barat, seharusnya tidak terdapat di sini. Hal tersebut telah banyak dibahas oleh kalangan cendikiawan dan tertulis dalam banyak buku. Atas dasar itu, cara berpikir dengan kerangka Barat di atas tidak mungkin menjadi pondasi bagi kebangkitan baru bangsa kita, Indonesia. Sebuah kebangkitan harus dibangun di atas pondasi akhlak yang mulia, ilmu pengetahuan yang luas, dan kekuatan yang tegar.

Pengaruh perkembangan ilmu di kalangan bangsa Eropa semakin besar, medan penelitian dan penemuan pun semakin meluas. Akibatnya hasil produksi semakin berlipat, yang membawa kehidupan masyarakat menuju era industrialisasi. Hal itu kemudian merambah ke semua sisi kehidupan, bersamaan dengan berdirinya negara adikuasa dan pelebaran sayap kekuasaannya ke semua negara dan semua wilayah. Dunia begitu antusias menanggapi kemajuan bangsa – bangsa Barat (Eropa), kepada merekalah ditumpahkan segala sesuatu. Banyak dana dari berbagai tempat diinvestasikan ke sana. Oleh karenanya, secara aksiomatik yang menggejala setelah itu adalah tegaknya gaya hidup dan peradaban ala Eropa di atas pondasi pemberangusan nilai-nilai agama dari kehidupan masyarakat, khususnya yang menyangkut masalah negara, peradilan, dan pendidikan. Tirani Materialisme dijadikan ukuran dalam segala hal. Sebagai konsekuensi logis dari hal tersebut adalah fenomena peradaban menjadi “material minded” dan cenderung menghancurkan semua ajaran agama. Peradaban ini secara diametral bertentangan dengan asas- asas yang telah digariskan oleh nilai – nilai dasar bangsa kita yang telah membangun paradigma peradabannya dengan bertumpu pada kesesuaian antara spiritual dan material.

Oleh karenanya, mari kita ganti kacamata kita dengan kaca mata yang mampu memahamkan kita akan landasan berfikir atau asumsi dibalik praktik – praktik kemajuan yang hakiki sehingga kita tidak terjebak dalam arus dan sekedar ikut – ikutan. Kaca mata tersebut haruslahlah mengandung unsur kemanusiaan sehingga mampu menggabungkan mata, hati maupun pikiran kita semua.