BANG SANI, Guru Besar dan Pewaris Silat Gerak Saka Betawi


Cerita rakyat yang berkembang di Jakarta selain cerita rakyat yang sudah dikenal seperti Si Pitung, juga dikenal cerita rakyat lain seperti serial Jagoan Tulen atau si jampang yang mengisahkan jawara-jawara Betawi baik dalam perjuangan maupun kehidupannya yang dikenal “keras”. Selain mengisahkan jawara atau pendekar dunia persilatan, juga dikenal cerita Nyai Dasima yang menggambarkan kehidupan zaman kolonial.

Local Wisdom Betawi
Suku betawi sangat memegang erat kebersamaan antar golongan masyarakat, baik dari satu suku ke suku yang lainnya, dalam hal ini nilai kearifan dalam suku betawi adalah sifat solidaritas yang sangat tinggi akan sesama. Orang betawi dapat memiliki sifat yang sangat rela berkorban untuk masyarakat yang sekitar, seperti cerita rakyat yang berkembang di Jakarta selain cerita rakyat yang sudah dikenal seperti Si Pitung, juga dikenal cerita rakyat lain seperti serial Jagoan Tulen atau si jampang yang mengisahkan jawara-jawara Betawi baik dalam perjuangan maupun kehidupannya yang dikenal “keras”. Selain mengisahkan jawara atau pendekar dunia persilatan, juga dikenal cerita Nyai Dasima yang menggambarkan kehidupan zaman kolonial.

“Seorang jawara tidak akan pernah meremehkan siapapun atau apapun, tetapi seorang jawara juga ingat bahwa ia tidak akan pernah meremehkan dirinya sendiri.”

Bang Sani, Guru Besar dan Pewaris Silat Gerak Saka

Muhammad Sani, atau lebih dikenal sebagai “Bang Sani” ini adalah seorang Jawara Betawi tulen, dia sudah menghadapi banyak sekali jagoan-jagoan lainnya, dan tidak pernah sekalipun kalah. Di usianya yang sudah hampir memasuki 60 tahun, Bang Sani ini tetap menjaga pribadi khasnya sebagai Jawara Betawi.

Uniknya, para tetangga Bang Sani tidak ada satupun yang tahu kalau beliau ini guru silat juga. Selama saya berlatih dengan beliau, beliau berhasil menimbulkan rasa percaya diri yang unik dalam diri saya, dan tentunya saya selalu diingatkan ketika latihan, bahwa saya tidak pernah boleh menjadi pongah dan jumawa akan diri saya sendiri, karena kita semua pasti akan bertemu dengan orang yang ‘lebih’ (kalau dalam Boso Jowo ‘Linuwih’).


sumber :
http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2011/03/tugas-kepariwisataan-bpk-muhammad-kholik/