News Update :

.

.

Entri Populer 1 Bulan Ini

Menteri BUMN, Mustafa Abubakar : BUMN Tower akan dibangun di Pancoran

Sabtu, 29 Januari 2011


Kementerian Badan Usaha Milik Negara berencana akan membangun Menara BUMN (BUMN Tower). Menurut Menteri BUMN Mustafa Abubakar, BUMN Tower tersebut akan dibangun di lokasi Markas Besar TNI Angkatan Udara di Pancoran, Jakarta. "Itu kan tanahnya milik RNI (Rajawali Nusantara Indonesia/persero)," kata dia di Kementerian BUMN, Jakarta (28/01). Kendati demikian, dia mengakui, lokasi tersebut juga belum final sebab tergantung RNI. "Kita lihat nanti, RNI mau atau tidak menyerahkan tanah untuk pembangunan itu," tutur Mustafa.
Meski rencana pembangunan BUMN Tower masih dalam tahap pengkajian, namun Mustafa menegaskan, pembangunan proyek menara ini akan dikerjakan secara serius. Adapun pihak yang berminat membangun BUMN tower ini adalah Grup Ciputra, pengusaha Tommy Winata, PT Adhi Karya Tbk, dan Dana Taspen yang telah menyerahkan proposal.
Model pembangunan menara tersebut, katanya, dilhami oleh Pancasila. "Ada usulan membangun lima tower seperti pada pancasila. Nantinya, tower itu bernama Panca Menara," kata Mustafa.
Soal sumber dana masih dibahas. Mustafa menegaskan bahwa sampai sekarang Kementerian BUMN belum menetapkan berapa biaya yang akan dikeluarkan. "Ini masih ide, belum masuk kedalam program, masih kita kaji," ujar dia.
Mustafa menuturkan, Menara BUMN ini diharapkan dapat menyatukan kantor-kantor BUMN yang selama ini terpisah, sehingga bisa menciptakan efisiensi biaya operasional kementerian. Ia juga berharap, semua BUMN bisa memberi kontribusi dalam proyek BUMN Tower tersebut.
Pembangunan Menara BUMN tersebut patut dipertanyakan dari sisi peruntukannya. Sekarang pentingnya untuk apa? Pembangunan tower, gedung perkantoran, mal, restoran, dan lain-lain sudah banyak di Jakarta. Sebagai sebuah mega proyek yang digalang kementerian BUMN, seharusnya Menara BUMN bisa memberikan multiplier effect bagi peningkatan kinerja para BUMN. Yang menjadi prioritas seharusnya kinerja BUMN tersebut dulu, masalah tower itu bisa belakangan. Senada dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang meminta agar BUMN tidak manja, harus memiliki keuntungan, dan bisa kompetitif dengan swasta. Dari 141 BUMN yang ada masih banyak BUMN yang masih di bawah standar. Beberapa BUMN yang di masih merugi diantaranya adalah PT PAL Indonesia, PT Dirgantara Indonesia, PT Industri Sandang Nusantara (Insan), PT Asuransi Kredit Indonesia, PT Pelni, PT Balai Pustaka, dan PT Kertas Leces, PTPN XIV dan yang lainnya. Selain itu ada 21 BUMN yang terus mengalami kerugian selama 3 tahun dalam 5 tahun belakangan. Pada umumnya BUMN – BUMN yang rugi tersebut menunjukkan kelemahan dalam bersaing, alat produksi yang uzur, kesulitan finansial termasuk hutang dan likuiditas yang seret. Tengok saja perusahaan yang begitu familiar dan menjadi andalan publik dalam tranportasi laut, PT Pelayaran Nasional Indonesia atau PELNI. Perusahaan senior tersebut dinilai kalah bersaing dengan moda tranportasi lainnya terutama pesawat udara yang unggul dalam kecepatan dan harga tiket. Armada yang menua serta biaya bahan bakar juga membebani. Apalagi load factor juga rendah. Sementara baru sembilan dari 141 BUMN yang mampu membukukan capaian laba bersih lebih dari seratus persen dibandingkan tahun 2009.
Ide membangun menara tinggi di Indonesia biasanya tidak terlepas dari keinginan-keinginan untuk membuat ikon dan kebanggaan wilayah saja, bukan untuk meningkatkan kinerja sebuah perusahaan apalagi BUMN. Misalnya pembangunan menara kembar Petronas di Malaysia oleh Mahatir Muhammad adalah demi ikon dan kebanggaan Malaysia saja, just it. Apakah orang miskin juga memang membutuh kebanggaan juga? Bukankah keuntungan BUMN tersebut harus digunakan untuk sebesar – besarnya kemakmuran rakyat. Yang menjadi pertanyaan lagi adalah kenapa dibangunnya harus di Pancoran Jakarta, kenapa tidak di tempat lain?. Daerah pancoran dalam kesehariannya merupakan daerah titik rawan kemacetan, bisa dibanyangkan kalau ditambah 5 tower BUMN berada di sekitar perempatan pancoran tersebut, dapat dipastikan akan lebih parah macetnya, bukannya mengurangi kemacetan justru akan menambah kemacetan.

Mustafa Kamal (Nominator Polling INILAH.COM) - Membangun Daya Kritis Sejak Dini

Kamis, 27 Januari 2011


Tak seperti pemilu 1998 silam yang begitu bereuforia, kini carut marut dunia perpolitikan telah membuat masyarakat tak berempati lagi pada partai politik. Kondisi ini juga dirasakan Ketua Fraksi PKS Mustafa Kamal.

"Saya merasa asing dengan perpolitikan belakang ini dibandingkan 1998. Dulu kita bercita-cita agar perpolitikan Indonesia lebih baik. Sekarang ini yang ada distorsi-distorsi. Orang berpolitik di era anti politik. Dulu harapan orang mengebu-gebu kepada parpol sekarang kecewa pada parpol," kata Ketua Fraksi PKS Mustafa Kamal, baru-baru ini.

Pria kelahiran Jakarta, 14 Desember 1969, yang ditemui di ruang kerjanya, baru-baru ini mengaku terjun dalam dunia politik sejak 1998. Politisi PKS ini ingin pemilu 2009-2014 ini kembali seperti 1998. Dimana masyarakat sangat bereforia terhadap parpol.

"Pada 2009-2014 selain ada regenerasi ditingkat nasional, kita berhasil membangun jati diri. Saya tidak mengatakan semua buruk, kita harus pastikan semuanya baik bagi arah perkembangan bangsa. Ini yang menjadi PR besar ditingkat nasional.”

Politik, lanjut pria yang sempat menduduki posisi penting di kepengurusan PKS menilai, pada akhirnya harus memberikan pelayanan kepada masyarakat luas dan manfaat kemasyarakatan yang sebesar-besarnya bagi masyarakat.

Menurut Mustafa, pada pemilu 1998 dirinya melihat secara dekat bagaimana eforia terjadi. Bagaimana metamorfosis terjadi, kekuatan parpol lama membentuk partai-partai baru namun orangnya lama dan ada juga partai-partai baru yang ikut serta.

Mustafa menjabat sebagai Wakil Sekjen DPP Partai Keadilan, kemudian masih dipartai yang sama pada periode 1998-2000, Mustafa menjabat Ketua Departemen Kepeloporan Pemuda DPP Partai Keadilan.

Namun karena tak lulus parliamentary treshold (PT) pada 1998, Partai Keadilan bermetamorfosis menjadi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). PKS pun terus berkembang hingga mendapatkan kursi di DPR.

Ia pun mengaku menduduki beberapa jabatan di PKS di antaranya menjadi Ketua Departemen Kepeloporan Pemuda DPP Partai Keadilan Sejahtera (2000-2005), Sekretaris Fraksi PK Sejahtera (2006-2009), Anggota MPP PK Sejahtera (2005-sekarang), Ketua Bidang Kebijakan Publik DPP PK Sejahtera (2009-sekarang) dan Ketua Fraksi PK Sejahtera (2009-sekarang).

Sementara terkait karir berpolitiknya di DPR RI, Mustafa telah mengalami duduk di tiga komisi yakni Komisi IX, XI dan VI. Pria jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Indonesia ini mengaku minatnya terhadap dunia perpolitikan Indonesia sudah muncul sejak kecil.

"Ini karena semenjak kecil, kalau melihat perjalanan hidup saya dari TK, SD sampai sekarang jadi ketua terus. Antara bakat tadi akhirnya bertemu dengan momentum-momentum," ujarnya.

Semenjak SMP, lanjut dia dirinya mulai melakukan perbandingan sejarah dengan realita perpolitikan. Dengan modal membaca buku-buku milik sang kakek.

Dibangku SMA dirinya mulai mengikuti kegiatan kepemudaan dan keislaman yang pada akhirnya membentuk daya kritisnya. Diperkuat lagi saat duduk dibangku kuliah. Kegiatan yang digeluti ketika masa-masa perkulihaan dan seterusnya di antaranya Ketua Senat Fakultas Sastra UI tahun 1993-1994 dan Komisi Litbang SM-UI tahun 1994-1995.

Juga Manajer Bursa Koperasi Mahasiswa FS-UI 1992, Litbang Studi Klub Sejarah FS-UI, 1991, Deklarator Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) tahun 1998 dan akhirnya ikut mendirikan partai Keadilan.

Walaupun mengaku selalu sibuk, bapak lima anak ini terus mendapatkan dukungan dari keluarga. Istri dan anaknya selalu ikut mendampingi saat dirinya harus berkerja.

"Saya biasa mengajak anak-anak saya dari kecil untuk mengikuti kegiatan saya ke daerah-daerah, jadi wisata mereka adalah jalan-jalan itu, bisa pergi ke pelosok negeri. Mereka bermain bersama saya dalam perjalanan itu, sekarang semakin besar sudah tahu risikonya," tuturnya.

Menurut mantan dosen UI ini, dengan membawa anak-anaknya bekerja setidaknya mengajarkannya memahami profesi ayahnya. Jadi mereka tidak lagi menanyakan kenapa ayahnya pergi.

Tak hanya itu, sambung dia, mereka juga bisa belajar dengan melihat dunia luar. "Dengan melihat dunia nyata mimpinya akan tinggi dan besar, mimpi besar itu penting, supaya mereka memiliki langkah-langkah besar," ujarnya.

Sudah 12 tahun, Mustafa berkecimpung didunia perpolitikan. Ia pun tak mengetahui sampai kapan dirinya ikut meramaikan perpolitikan nasional. "Itulah perjalanan-perjalanan yang oleh yang maha kuasa merupakan takdir dalam hidup ini,” katanya.

Ia mengakui sejak bersama-sama membangun partai sampai hari ini tak bisa menoleh profesi lain. “Dari 1998 sampai saat ini tidak tahu kapan saya berhenti, saya juga tidak tahu apa yang disebut istirahat," imbuhnya. [mdr]

sumber : www.inilah.com

Aus Hidayat Nur : Kesederhanaan Anggota DPR RI

Rabu, 26 Januari 2011













Waktu baru menunjukkan pukul 05.30 WIB. Anggota DPR Aus Hidayat Nur meninggalkan rumahnya di Jalan Kelapa Dua Raya RTM Cimanggis, Depok dengan membonceng sepeda motor. Salah satu anaknya yang mengendarai kendaraan roda dua itu. Tujuan mereka adalah Stasiun Universitas Indonesia (UI). Perjalanan tak sampai 30 menit, tiba di stasiun, politisi PKS ini segera membeli tiket KRL Eksekutif tujuan Stasiun Tanah-abang seharga Rp 5.500.

Pukul 06.15 WIB kereta yang ditunggu-tunggu datang. Pria ini langsung naik gerbong yang lumayan sejuk dan membuat mata ingin terperam. Perjalanan ke Stasiun Tanah-abang memakan waktu sekitar 45 menit. Sekitar pukul 7, Aus sudah di berada di depan stasiun dan memanggil ojek. "Hampir setiap hari saya naik KRL agar lebih cepat sampai kantor," kata Aus Hidayat Nur.

Aus kembali naik ke boncengan motor untuk sampai ke kantornya di gedung DPR. Ongkos ojek Rp 20 ribu. "Sebetulnya harga normalnya Rp 10 ribu. Ya lumayan lah bisa sekalian membantu orang," kata pria yangdipercaya duduk di Komisi II DPR ini. Setelah sampai di gedung DPR, pria ini mengikuti rapat internal Fraksi PKS yang digelar mulai pukul 7 sampai 10 pagi. Setelan itu. Aus sibuk dengan kegiatan di Komisi II DPR yang membidangi Pemerintahan Dalam Negeri dan Otonomi Daerah, Aparatur Negara, Agraria dan Komisi Pemilihan Umum.

Aus mengatakan lebih sering ke DPR naik kereta. Tapi, bila kegiatan di parlemen sedang tak padat, ia datang menggunakan kendaraan pribadi, Proton Exora. Mobil produksi Malaysia itu, menurut dia, dibeli secara kredit. Uang mukanya Rp 80 juta dengan tempo cicilan empat tahun. Setiap bulan. Aus membayar cicilan Rp 3,9 juta. Saat ini sudah masuk bulan kesepuluh. "Mobil itu lebih murah dari Toyota Innova," kata Aus. Sebelum memiliki mobil sendiri. Aus beberapa datang ke DPR menggunakan Daihatsu Terrios. Menurut dia, mobil itu adalah kendaraan operasional DPP PKS. Ia bisa menggunakan kendaraan itu karena menjabat Ketua Pembinaan Wilayah Dakwah. Kini, mobil itu diguna-kan oleh istrinya. Susanti karena dia aktif menjadi pengurus di DPP PKS.

Pria yang dikaruniai enam orang anak ini mengatakan tak ingin bermewah-mewahan sebagai anggota DPR. Menurut dia, jabatan anggota legislatif itu tidak selamanya, hanya lima tahun. Gaya hidup mewah, bagi Aus, akan membawa dampak buruk bila nanti sudah tak lagi menjadi anggota Dewan. "Bisa-bisa ter-kena post power syndrome," canda Aus. Sebagai anggota Dewan, Aus memiliki kewajiban untuk melaporkan kekayaannya ke KPK. Ia menyebutkan kekayaannya berjumlah Rp 500 juta. Meliputi sebuah rumah dan sebuah mobil.
Aus mengatakan penghasilan sebagai anggota DPR lebih banyak disumbangkan ke partai. Setiap bulan hampir sepertiga gajinya diberikan kepada partai dan fraksi. Namun ia enggan mengungkapkan besarannya. "Wah nggak enak kalau disebutin angkanya. Yang penting lumayanlah," kata Aus.

Setiap bulan, anggota DPR memperoleh gaji Rp 64,8 juta. Jadi besarnya iuran yang dikeluarkan Aus untuk partai dan fraksi sekitar Rp 20 juta. Aus tak mempersoalkan sepertiga gajinya harus diserahkan ke partai. Sebab, dia merasa tak perlu mengeluarkan uang banyak saat menjadi calon legislatif (caleg). Saat itu, dia justru banyak menerima sumbangan dari kader-kader di bawah. "Karena sekarang sudah jadi anggota DPR, maka harus membantu kader yang ada di bawah. Jadi saling gantian bantulah," katanya.
Sebelum menjadi anggota Dewan, Aus menjalankan bisnis multi level marketing (MLM). Usaha dijalaninya sejak 2003. Penghasilannya sudah mencapai Rp 20 juta setiap bulan.
Namun sejak duduk di DPR penghasilannya turun. Sebab waktunya banyak tersita untuk kegiatan-kegiatan di Senayan. Akibatnya, dia tak bisa mengembangkan bisnisnya itu.
Kegiatan di Komisi II memang cukup padat. Tapi, Aus bersyukur ditempatkan di komisi ini karena tak banyak godaannya. "Ada ungkapan bahwa Komisi II merupakan komisi air mata," ujar Aus bercanda.

Walaupun kegiatannya di Senayan sering sampai malam. Aus selalu menyempatkan untuk pulang ke rumah dan bertemu keluarga. Bila sudah tidak ada acara di DPR, Aus pulang setelah shalat Maghrib. Dari DPR dia naik ojek menuju halte busway Ratu Plaza. Perjalanan selanjutnya ditempuh dengan bus Transjakarta menuju terminal Blok M. Dari sini, dia menumpang Metro Mini ke Pasar Minggu. Dari terminal Pasar Minggu dilanjutkan naik ojek menuju rumahnya Cimanggis, Depok. "Paling telat sampai rumah jam setengah sembilan malam. Kalau malam kan lancar, jadi bisa cepat sampai rumah," katanya.
Ketika naik kendaraan umum. Aus menyembunyikan jas yang menjadi pakaian sehari-hari anggota DPR ke dalam tas. Ia hanya mengenakan kemeja lengan pendek, celana bahan dan sepatu kerja.

"Orang-orang yang naik Metro Mini bareng saya tidak ada yang tahu kalau saya anggota DPR. Apalagi saya tidak terkenal. Jadi saya tenang saja," ujar Aus sambil terkekeh-kekeh. Pergi naik kereta dan pulang naik bus ini merupakan aktivitas
Aus selama DPR dalam masa sidang. Ketika masa reses, seperti anggota Dewan lainnya, Aus berkunjung ke daerah pemilihannya untuk bertemu konstituen. Aus menjadi anggota DPR dari daerah pemilihan Kalimantan Timur. "Saya baru aktif lagi di DPR setelah reses," katanya.

sumber : Rakyat Merdeka, 4 Januari 2011

TB Sumandjaja : Kesederhanaan Anggota DPR RI


Jamaah shalat Subuh baru saja bubar. Sinar matahari pagi belum muncul. TB Sumandjaja sudah keluar dari rumahnya di Kampung Salabenda, Bogor, Jawa Barat.
IA menyetop angkutan kota (angkot) yang melintas di depan rumahnya. Kendaraan itu akan membawanya ke Stasiun Cilebut. Dari stasiun, politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini menumpang KRL ekonomi jurusan Bogor-Kota. Ia turun di Stasiun Cawang Atas dan cukup membayar tiket Rp 2 ribu. Sampai di Cawang dilanjutkan naik bus untuk sampai ke gedung DPR. “Kalau tidak ada bus umum, saya sering numpang bus Kementerian Kehutanan,” kata anggota Komisi 11 DPR ini. Sumandjaja sengaja memilih nebeng bus Kementerian Kehutanan ini karena lewat di depan gedung DPR.

Pukul 07.00 WIB. Sumandjaja sudah tiba di DPR untuk mengikuti rapat internal Fraksi PKS. “Itu rutinitas saya selama menjadi anggota DPR,” ujar Wakil Ketua Pansus RUU Keprotoko- lan ini. Namun saat ini DPR tengah reses. Untuk sementara. Sumandjaja tak perlu keluar rumah pada pagi buta untuk mengejar kereta agar tak terlambat sampai di DPR. Sumandjaja mengaku lebih senang menggunakan angkutan umum ketimbang menggunakan kendaraan pribadi untuk ngantor ke Senayan. Dengan menumpang kendaraan umum, dia bisa berinteraksi dengan anggota masyarakat. Selain itu, biayanya lebih irit dibandingkan membawakendaraan pribadi. Ia pun tak perlu capek-capek nyetir. Hanya bila ada keperluan mendesak saja Sumandjaja menggunakan kendaraan pribadi untuk sampai ke DPR. Sumandjaja memiliki dua kendaraan yakni Toyota Rush dan Suzuki APV. “Mobil APV itu belum lunas masih kredit hingga sekarang,” kata ketua Fraksi PKS di MPR ini. Sementara Toyota Rush dibeli secara tunai setelah dia menjual kendaraan terdahulu, Suzuki Katana.

Ketua Kelompok IV Tim Sosialisasi MPR ini punya pengalaman tak mengenakkan naik kendaraan umum. Telepon genggamnya tertinggal di angkot saat berkunjung ke suatu daerah di Kabupaten Bogor. Telepon genggam yang hilang merek Nexian dan Nokia model lama. “Hilangnya Minggu kemarin,” kata ketua Komisi Konstutisi dan Legislasi MPP PKS ini. Tersadar dua telepon genggamnya tertinggal di angkot, Sumandjaja mengejar dengan menumpang ojek. Naas, angkot tersebut tak berhasil ditemukan. Kehilangan telepon genggam tentu menyulitkan Sumandjaja untuk berkomunikasi. Agar tetap bisa halo-haloan, ia meminjam handphone anaknya. “Mudah-mudahan Minggu depan sudah bisa membeli baru lagi dan handphone anaknya sudah bisa dikembalikan lagi,” kata Sumadjaja.

Pengalaman tak mengenakkan lainnya yakni digeledah oleh Pengamanan Dalam (Pamdal) DPR. Ceritanya, Sumandjaja yang masih dalam kondisi mengantuk turun dari bus di depan gerbang DPR. Malam sebelumnya dia bergadang karena harus menyelesaikan tugas-tugas di rumah. Begitu melewati gerbang, petugas Pamdal menghampiri-nya. Sumandjaja ditanyai macam-macam. Karena datang jalan kaki, dia dikira tamu. Tak hanya itu, petugas itu menggeledahnya. Sumandjaja diminta memperlihatkan semua isi tasnya. Karena tak menemukan barang-barang yang mencuri-gai, Sumandjaja diminta memperlihatkan identitas.
“Langsung saya kasih ID Card anggota DPR saya. Setelah tahu mereka bahwa saya anggota DPR akhirnya mareka meminta maaf ke saya,” kenangnya waktu itu. Sumandjaja berharap petugas Pamdal tidak seenaknya menggeledah tas orang yang akan masuk ke dalam gedung DPR sebelum lebih dulu menanyakan identitas. “Kalau asal geledah kemudian ternyata tahu bahwa yang digeledah anggota DPR kan mereka malu sendiri,” kata anggota DPR dua periode ini.

Sumandjaja adalah anggota DPR periode 1999-2004 dan periode 2009-2014. Sedangkan pada periode 2004-2009 dirinya ditunjuk oleh partai untuk menjadi tenaga ahli di DPR.
Aktivitas DPR yang padat kerap membuat Sumandjaja tak punya cukup untuk pulang ke rumahnya di Bogor. Ia sering menginap di ruangan kerjanya di ruangan 305 Gedung Nusantara I bila pekerjaannyasedang menumpuk sementara besoknya ada sidang pagi hari.
Sebelum tidur, sambung Sumandjaja, dirinya terlebih dulu melapor ke Pamdal agar tak terjadi kesalahpahaman seperti kejadian penggeledahan di gerbang DPR. Di mana dia tidur? Sumandjaja mengatakan dia tidur sekenanya saja. Kadang di sofa. Kadang di lantai ruang kerjanya yang dilapisi karet. Tentu saja tanpa bantal dan guling. “Saya langsung tidur miring di karpet saja dan tidur pulas sampai pagi,” katanya.
Beberapa kali dia tidur di ruang rapat Fraksi PKS di lantai yang sama, la memilih tidur di situ karena ruangannya lebih lebar. Untuk alas tidur. Sumandjaja memanfaatkan karton bekas yang banyak menumpuk di ruangan tersebut. Biasanya, bila menginap di kantor Sumandjaja ditemani asisten pribadi dan office boy yang memang sehari-hari tidur di situ. “Tapi, saya juga sering tidur sendirian,” katanya.

sumber : Rakyat Merdeka, 4 Januari 2011

Ledia Hanifa Amaliah (Nominator Polling INILAH)


Jejak Ledia Hanifa Amaliah menjadi politisi di DPR patut menjadi model bagi kaum perempuan yang ingin berkiprah di dunia politik. Meski menjadi politisi namun tak meninggalkan kodratnya sebagai perempuan.

Profil Poling Politisi Senayan Terpopuler

"Bisa-bisa saya didemo anak-anak," ujar Ledia, saat ditanya tentang komunikasi dengan anak-anaknya. Ia mengaku meski menjadi politisi tetap berperan sebagai ibu dari empat anaknya. Menurut perempuan berjilbab ini, keputusan terjun ke dunia politik melalui diskusi yang panjang dengan keluarga baik suami maupun anak-anaknya.

Terkait anak-anak, Leida mengaku dirinya telah memberi pengertian terkait aktivitasnya di luar rumah. Ia mengaku telah memperkenalkan politik sejak kecil kepada empat puteranya. "Sejak kecil sudah diperkenalkan. Alhamdulillah, anak-anak sekarang sudah besar," katanya.

Perempuan yang lahir di Jakarta, 30 April 1969 ini mulai terjun ke dunia politik sejak reformasi 1998 bergulir seiring berdirinya Partai Keadilan (PK) yang akhirnya berganti nama menjadi Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

"Dengan masuk ke dunia politik, banyak hal yang bisa dikerjakan, terutama dalam pembuatan produk kebijakan," katanya memberi alasan. Sebelum terjun ke politik praktis, Ledia aktiv di Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).

Magister Psikologi Terapan Universitas Indonesia (UI) ini meyakini dengan terjun ke politik, dapat lebih luas lagi mengabdikan dirinya untuk publik.

Meski baru setahun lebih berkiprah di DPR RI, anggota Komisi IX DPR RI ini mengaku sudah melakukan berbagai upaya untuk kepentingan masyarakat luas. "Seperti mendorong Kementerian Kesehatan untuk menurunkan angka kematian ibu," katanya seraya menambahkan, hal tersebut merupakan kerja kolektif DPR.

Terkait dengan ketenagakerjaan, Ketua Bidang Humas Kaukus Perempuan Parlemen Indonesia ini juga menegaskan, pihaknya mendorong BNP2TKI dengan Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi tidak terjadi dualisme dalam mengurus TKI/TKW. "Sekarang tidak ada lagi dualisme antara BNP2TKI dan Kemnakertrans," tandasnya.

Tentu saja, selama setahun lebih berkiprah di parlemen, bagi Leida masih banyak pekerjaan rumah yang belum dikerjakan. Ia bercita-cita membuat program promotif-preventif di bidang kesehatan. "Seperti dalam menekan angka kematian ibu," ujarnya.

Persoalan lainnya terkait kesehatan, Ketua DPP Bidang Kewanitaan PKS ini ini juga menginginkan pendistribusian tenaga kesehatan di daerah dilakukan secara merata. Termasuk revisi UU Kesehatan dan penerbitan UU Keperawatan. "Sedangkan untuk pengiriman TKI ke Luar Negeri harus diperbaiki lagi," cetusnya.

Leida mengaku, soal kesetaraan gender tidak ada masalah di PKS. Menurut dia, dalam praktiknya tidak ada lagi dikotomi laki-laki dan perempuan. Menurut dia, semua kembali kepada kapasitas perseorangan. "Di PKS lebih ditekankan kepada kapasitas. PKS sangat menghargai perempuan," klaimnya.

Jika melihat jejak rekam Leida, memang perempuan berkacamata ini tergolong aktif. Saat ini ia juga tercatat sebagai anggota Forum Parlemen Indonesia untuk Kependudukan dan Pembangunan (2009-2014).

Juga menjabat Ketua Departemen Kebijakan Kesehatan, Kependudukan, Tenaga Kerja dan Transmigrasi Bidang Kebijakan Publik DPP Partai Keadilan Sejahtera (2010-2015), dan Anggota Majelis Pertimbangan PP Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia serta Ketua III PP Wanita PUI Ketua Divisi Diklat Kaukus Perempuan Politik Indonesia (2008-2010).

Leida mengaku aktivitas seabrek tak meninggalkan kodrat dirinya sebagai istri dari Bachtiar Sunasto itu. Menurut dia, suaminya cukup mendukung aktivitas politiknya. Ia mengaku pilihan terjun ke dunia politik merupakan hasil kesepakatan yang dibangun dirinya bersama suaminya. "Suami sangat mendukung," akunya.

sumber : www.inilah.com

Dani Anwar : Berharap Menjadi Jembatan Pemerintah Pusat dan Daerah

Selasa, 25 Januari 2011


DANI ANWAR boleh disebut sosok yang punya prestasi menonjol sejak masih muda. Di usia 30 tahun, Dani, sapaan akrabnya, menjadi salah seorang pendiri sebuah partai politik (parpol) baru (1998) yang bernama Partai Keadilan (PK). Tak tanggung-tanggung jabatan yang diembannya adalah Ketua Dewan Pimpinan Daerah Partai Keadilan, Jakarta Pusat

Kelebihan lelaki kelahiran Jakarta, 22 Februari 1968 itu dibanding pemuda lainnya kembali terlihat saat ia terpilih menjadi DPRD DW Jakarta selama 10 tahun sejak 1999-2009.

Sejak kecil lulusan SMA Negeri 7 Gambir, Jakarta Pusat (1987) ini sudah ditinggal sang ayah; yang menghadap Sang Khaliq. Pria yang pernah mengecap pendidikan tinggi di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini diasuh ibunya secara sendirian

Dengan kondisi ekonomi keluarga pas-pasan. Dani menjalani masa kanak-kanak dan remajanya dengan keprihatinan; bekerja keras membantu ibunya mencari uang untuk memenuhi kebutuhan hidup. Berjualan makanan dan koran serta berjualan mie pangsit sampai memberi les privat untuk membiayai sekolah dan kuliahnya.

Dari tempaan hidup itu, dapat dilihat bagaimana sifat kerja keras dan kedisiplinan-nya dalam menjalankan tugas sebagai Sekretaris Komisi 8 DPRD DKI Jakarta (1999-2004). Apalagi saat remaja dan menginjak dewasa. Dani juga aktif berorganisasi di lembaga kerohanian Islam (rohis) SMA, Pelajar Islam Indonesia (PID, dan Pemuda Muhammadiyah.

Meski tanpa asuhan dari sang ayahnya, suami dari Rohimatussadiyah ini, dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang sangat religius. Dani pun berkembang menjadi pribadi yang memegang teguh prinsip agama. Lingkungan ini pula yang mengenalkan Dani akan kesadaran berpolitik, mendorongnya untuk menempa diri dalam organisasi kepemudaan dan politik.

Ayah dari Reza Baihaqi ini juga dikenal memiliki prinsip ke-lslaman yang kuat dan teguh. Aktivis LPPTW-BKPRMI Jakarta Pusat ini sangat taat pada kode etik yang berlaku dan selalu memenuhi kewajiban moralnya secara teliti dan hati-hati.

Terlihat, kala Dani memainkan peran sebagai Ketua Komisi E DPRD DK) Jakarta. Dani tak segan mengungkapkan pandangan dan aspirasi rakyat yang dibawanya. Ia lugas dalam berbicara, tidak ragu menyatakan sesuatu dengan keras.

Pendiri Yayasan Ihsanul Amal yang bergerak di bidang sosial dan pendidikan im pernah dicalonkan PKS sebagai Cawagub DKI Jakarta berpasangan dengan Adang Daradjatun pada 2007. Namun disayangkan, keberuntungan belum datang kepada Ketua DPW

PKS DKI Jakarta (2002-2006) ini.

Pada 2009, anggota MPW PKS DKI Jakarta (2006) ini pun diperintahkan partainya mengikuti pencalonan anggota DPD RI dari Provinsi DKI Jakarta. Dani pun terpilih menjadi anggota DPD RI periode 2009-2014 dengan meraih suara terbanyak sebesar 451.804 pemilih.

Saat ditanya, bagaimana rahasia hidup dirinya hingga bisa berhasil seperti saat ini? Dengan lugas Dani menjawab, kuncinya adalah bermasyarakat, memperhatikan lingkungan sekitar, tidak menjaga jarak dengan masyarakat, hidup sederhana, selalu menunjukkan kinerja yang baik.

MENJADI anggota legislatif, baik di DPRD maupun DPD, tutur Dani, tugas utamanya adalah bagaimana sekuat kemampuan memperjuangkan konstituen yang diwakili. Hal itu ia lakukan tatkala masih menjadi anggota DPRD DK) Jakarta, begitu pula kini saat di DPD.

"Menjadi anggota legislatif pertu keseriusan, kerja keras, pengorbanan Tidak boleh ketika sudah terpilih menghindarkan diri dari tugas-tugas memperjuangkan aspirasi kon-stituen. Sudah risiko politik, kalau sudah terpilih maka harus melayani konstituen sebaik mungkin, itu yang selalu ditanamkan dalam benak." tegas Dani

Dani mempunyai target tersendiri dengan statusnya saat ini Deni berharap menjadi jembatan bagi pemerintah daerah, dan masyarakat DKI Jakarta dengan pemerintah pusat Misalnya, kata dia, soal status DKI Jakarta sebagai Ibukota Negara

Dikatakan Dani, sejak UU No 29/2007 tentang DKI Jakarta disahkan, terhitung sudah tiga tahun pemerintah pusat belum memberikan dana sepeserpun kepada DK) Jakarta sebagai Ibukota Negara

"Selama ini saya terus memperjuangkan itu DK) Jakarta kan Ibukota Negara, maka dia harus mendapatkan alokasi dana sebagai Ibukota Negara, dan itu sudah sering saya su-arakan kepada Menteri Dalam Negeri, agar segera direalisasikan papar dia.

Adapun sebagai posisinya saat ini, yakni Ketua Komite I DPD, dirinya bersama rekan-rekannya sedang fokus membenahi pemerintah daerah dan otonomi daerah. Disebutkan dia. Komite I DPD sedang memperjuangkan agar provinsi-provinsi kepulauan mendapat-kan dana alokasi umum yang perhitungan nya juga harus disesuaikan sebagai provinsi kepulauan.

"Begitu juga kita sedang memperjuangkan bagaimana otonomi khusus Papua sesuai keinginan dan harapan rakyat Papua. Karena itu kita bentuk Pansus Papua," ujar Dani.

Hal lainnya, jelas dia, adalah masalah perbatasan. Menurut dia, rakyat Indonesia di wilayah perbatasan sangatmiskin, padahal di depannya rakyat negara tetangga terlihat makmur. Menurut dia, itu sangat berbahaya, karena bisa melunturkan rasa nasionalisme

Karena itu akan dibentuk Pansus Perbatasan. Sedangkan dalam konteks DKI, kita pun akan bentuk Pansus khusus DKI untuk membenahi secara komprehensif wilayah DKI Jakarta," kata beliau.

Adapun terkait dengan RUUK DIY, dipaparkan Dani, faktor historis perlu mendapat perhatian dalam penyusunan dan pembahasan RUU itu Dani setuju salah satu konsekuensi menghormati sejarah keistimewaan Yogyakarta adalah menempatkan dan menetapkan Sri Sultan Hamengkubowo X sebagai Gubernur dan Paku Alam IX sebagai Wakil Gu-bernur DIY.

13 Bidang Tanah untuk Perluasan Flyover Kalibata - Nego Pemda dengan Warga Rawajati masih Alot

Untuk perluasan flyover Kalibata sisi Jakarta Timur, Pemkot Administrasi Jakarta setempat membutuhkan sedikitnya 13 bidang tanah atau sekitar 614 meter persegi tanah tambahan di Cawang dan Cililitan. Saat ini belum dilakukan pembayaran kepada 13 warga pemilik 13 bidang tanah itu, karena masih terdapat perbedaan surat pemberitahuan pajak terhutang-pajak bumi dan bangunan (SPPT-PBB) meskipun letak tanah berada di lokasi yang sama.

Saat ini para pemilik lahan masih mengurus perbedaan SPPT PBB tersebut ke Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama, Kramatjati. Secara umum seluruh pemilik lahan di Kelurahan Cawang, telah menyetujui pembebasan lahan sesuai dengan NJOP di daerah tersebut sebesar Rp 1,2 juta per meter persegi. Sedangkan untuk warga Kelurahan Cililitan, belum terjadi kesepakatan karena warga meminta pembayaran sesuai dengan harga pasaran.

Ketua Tim Panitia Pengadaan Tanah (P2T ) Jakarta Timur, Arifin Ibrahim, mengatakan, pihaknya masih menunggu surat perintah tugas (SPT) dari Dinas Pekerjaan Umum DKI selaku pengguna anggaran. Sehingga pihaknya belum bekerja di lapangan. Pihaknya merinci, dari 13 peta bidang dengan luas 614 meter persegi, 8 peta bidang terdapat di Cawang, dan 5 peta bidang lagi terdapat di Cililitan.

“Saya belum tahu berapa anggaran yang akan dikucurkan untuk pembebasan lahan tersebut. Yang jelas, hasil musyawarah kami dengan pemilik lahan di Kelurahan Cawang sudah tidak ada masalah lagi. Semuanya sudah sepakat, pembayaran sesuai dengan NJOP,” ujar Arifin, Selasa (18/1).

Arifin menambahkan, selain akan membayar ganti rugi lahan, pihaknya juga akan membayar bangunan dan tanaman yang terdapat pada lahan warga, Sehingga tidak ada warga yang merasa dirugikan dalam pembebasan lahan tersebut.(bj)

http://www.fauzibowo.com/infojakarta.php?id=2707&mode=view

Sementara info yang pks dapatkan di lapangan bahwa masih ada negosiasi yang alot karena luas tanah yang dimiliki warga tidak diakui seluruhnya oleh Tim dari pemda. Mereka semua saat ini sedang mengumpulkan surat - surat tanah yang mereka punyai dan selanjutnya akan mendatangi kembali kantor dewan DPRD DKI Jakarta untuk minta advokasi oleh anggota dewan kita di DPRD agar problem ini terselesaikan dengan ganti rugi yang layak.

Masyarakat Sudah Sebegitu Biasa dengan Kebohongan?

Rabu, 19 Januari 2011

By Gerbong (Gerakan Berhenti Berbohong) Pancoran

Kebohongan dan kepalsuan telah menjalar dan menjadi borok di segala lapisan masyarakat. Bahkan di Amerika berdasarkan sebuah survey terpercaya,didapatkan angka 91% dari warganya terbiasa berbohong. kebohongan adalah bagian dari hidup manusia sehari-hari. Bohong sama sekali bukan peristiwa yang luar biasa atau langka saat ini. Dalam sebuah penelitian yang lain, ditemukan bahwasanya dalam seminggu seseorang melakukan kebohongan antara 0 atau tidak sama sekali, sampai 46 kali kebohongan. Artinya ada orang yang melakukan kebohongan rata-rata sampai 6 kali dalam sehari. Penelitian tersebut juga menemukan bahwa masyarakat umumnya melakukan kebohongan minimal 1 kali dalam satu hari interaksi dengan orang lain. Mahasiswa melakukan rata-rata 2 kebohongan setiap hari. Mereka berbohong 1 kali dalam setiap 3 kali interaksi. Artinya sepertiga interaksi yang dilakukan mengandung kebohongan. Luar biasa bukan?

Tentunya ada alasan mengapa bohong secara masif dilakukan, bahkan oleh semua kelompok umur. Satu yang pasti adalah karena bohong dirasakan menguntungkan, baik bagi pelakunya maupun bagi kehidupan sosial. Keuntungan bagi pelaku kebohongan sangat jelas, entah itu untuk keuntungan psikis maupun keuntungan material. Dalam interaksi sosial, bohong menjadi sarana bagi seseorang untuk melakukan manajemen kesan, mengatur emosi, dan memberikan dukungan sosial. Lalu apa keuntungan bagi kehidupan sosial?

Kebohongan dalam masyarakat rupa-rupanya menjaga terciptanya lingkungan sosial yang erat. Bohong merupakan perantara bagi banyak orang untuk menunjukkan dukungan sosial kepada yang lainnya. Pada saat kesusahan, berbagai basa basi menunjukkan perhatian dan keprihatinan, yang tentunya banyak mengandung kebohongan, diucapkan. Tidak lain untuk menunjukkan adanya saling dukung dalam masyarakat. Dan semua orang mahfum belaka adanya kebohongan itu.

Bohong juga dilakukan untuk menciptakan keteraturan dan menjamin bahwa tata krama dalam masyarakat diterapkan. Bayangkan, jika seseorang selalu mengatakan apa adanya pendapat pribadinya pada orang lain, maka yang ada hanyalah geger sosial. Apa mungkin Anda mengatakan jelek anak tetangga Anda yang memang jelek, di depan orangtuanya? Lha, kalau mengatakan begitu Anda bakal tidak punya teman. Semua tetangga bakal menghindari Anda.

Keramahtamahan jangan-jangan juga sering dihiasi ketidakjujuran. Mempersilakan mampir seseorang, padahal hati tidak ingin orang itu mampir, hal biasa bukan? Tapi toh setiap orang telah mahfum, bahwa ramah-tamah semacam itu, tidaklah bermaksud sungguhan, sehingga ya menolak. Jikalau menerima tawaran untuk mampir, malah mungkin dianggap kurang ajar.

Ulasan di atas bukan maksud untuk menyuruh atau menyetujui saudara – saudara untuk melakukan tindakan berbohong. Anda perlu tahu kata bijak ini " JIKA ANDA BERBOHONG DAN ANDA TIDAK MAU MERUBAH TABIAT SUKA BOHONG..MAKA HIDUP ANDA TIDAK AKAN PERNAH BERBAHAGIA...". Memang tak bisa dipungkiri dan tidak terbantahkan kita semua pasti pernah berbohong, namun kita harus sadar bohong adalah penyakit, penyakit akut yang sangat berbahaya, saya ulangi lagi SANGAT BERBAHAYA. Mengapa kebiasaan berbohong sangat berbahaya? dan bagaimana cara anda supa tidak berbohong lagi? ini tipsnya:

1. Tanamkan dalam benak anda bahwa kebohongan adalah penyakit jiwa, jika anda ingin berbohong, INGAT ANDA SAKIT JIWA.

2. Jika ada peluang untuk berbohong ingat satu hal....orang yang menyayangi anda akan berbohong pula, keturunan anda juga akan ikutan suka berbohong, cucu anda juga.

3. Jika anda ingin berbohong, INGATLAH AKHIR DARI KEBOHONGAN ADALAH SENGSARA.

4. INGAT SATU HAL BAHWA TIDAK ADA KEBAHAGIAAN DENGAN KEBOHONGAN.

5. hitung berapa kali anda berbohong sehari ini, jika lebih dari 3 kali anda SUDAH SAKIT JIWA.

6. TANAMKAN DALAM HATI, JIKA HARI INI SAYA TIDAK AKAN BERBOHONG LAGI, jika ada peluang berbohong, maka DIAM...DIAM dan DIAM

7. NIATKAN DENGAN KERAS DALAM HATI, AKU BUKAN PENDUSTA, JIKA ANDA SEKALI BERBOHONG ANDA AKAN MENJADI PENDUSTA SEJATI.


Dari beberapa sumber
1. http://manajemenemosi.blogspot.com
2. http://psikologi-online.com

Warga Rawajati, Pancoran Tolak Ganti Rugi Proyek Pelebaran Jalan

Selasa, 18 Januari 2011

Meskipun Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah menetapkan besarnya ganti rugi 25 persen dari NJOP (Nilai Jual Objek Pajak), namun warga di Kelurahan Rawajati, Kecamatan Pancoran, Jakarta Selatan yang terkena penggusuran pelebaran jalan di bawah fly over (jalan layang) Kalibata menolak jumlah ganti rugi tersebut. Sebab berdasar hitungan Pemprov DKI, NJOP untuk tanah warga yang terkena gusuran adalah Rp 4.155.000 m2.

“Pemerintah tetap bersikeras bahwa mereka hanya akan membayar ganti rugi sebesar 25 persen dari NJOP bagi masyarakat yang tidak memiliki sertifikat. Ganti rugi 100 persen hanya yang sudah memiliki sertifikat,” ujar Ketua RT 002, Kelurahan Rawajati, Kecamatan Pancoran, Muhammar Hair, Senin (17/1).

Menurutnya, meski tidak memiliki sertifikat namun dirinya dan warga lainnya mengaku sudah menetap di daerah tersebut sejak berpuluh tahun lalu. Bahkan dirinya mengaku masih dalam proses pengurusan sertifikat tanah miliknya.

“Sampai saat ini saya masih mengurus sertifikat tanah saya,” kata Muhammar berkilah.

Sebelumnya, pemerintah DKI memang berencana akan memperlebar jalan yang ada di bawah fly over tersebut masing-masing enam meter ke sisi kiri dan kanan. Saat ini, jalan yang sudah ada baru selebar tujuh meter.

“Kami bukannya menolak pembangunan. Tapi hanya berharap agar ganti rugi dibayarkan dengan layak karena kami sudah turun temurun di sini,” katanya.

sumber : www.yustisi.com

Jembatan Layang Kalibata Sudah Beroperasi Secara Utuh untuk Kendaraan

Senin, 17 Januari 2011

Proyek peninggian jembatan Kalibata di Jakarta Selatan selesai dilaksanakan. Mulai Kamis (12/1/2011) jembatan tersebut sudah bisa dilalui kendaraan kendaraan bermotor. Jembatan tersebut juga sudah dilengkapi rambu lalu lintas. Namun jalan akses naik jembatan masih tergolong sempit, yakni hanya tujuh meter. Sehingga hanya tersedia dua lajur, masing-masing satu arah. Sedangkan lebar jembatan di atas mencapai 18 meter.

Setelah pengoperasian jembatan tersebut, jalan yang berada di bawah jembatan rencananya akan dibongkar. Pembongkaran jembatan tersebut masih menunggu koordinasi dengan Suku Dinas PU Tata Air setempat. Pembangunan jembatan tersebut didesain untuk mencegah banjir yang masuk hingga ke pemukiman penduduk. Selama ini, akses dari Jalan Dewi Sartika menuju Kalibata sering terputus ketika air banjir menutupi jalan raya. Hal itu disebabkan posisi jembatan yang lama berada dalam lintasan Sungai Ciliwung, tepat di posisi cekungan. Akibatnya pada musim hujan, Jembatan Kalibata yang lama selalu menjadi salah satu lokasi titik banjir terparah di ibu kota. Tidak hanya itu, rangka baja penopang jembatan lama juga berada di bawah, sehingga saat terjadinya banjir, menjadi tempat tersangkutnya sampah-sampah yang mengalir di sungai dan tersangkut di rangka baja itu. Dalam kondisi ekstrim, pernah jembatan tersebut terendam banjir hingga mencapai tiga meter. Akibatnya, jembatan pun tidak dapat dilalui masyarakat. Dengan adanya perbaikan Jembatan Kalibata diharapkan akses jalan tersebut tidak lagi terputus karena banjir, karena ketinggiannya telah ditambah.


Fungsi jembatan kalibata tersebut sangatlah vital, yang mana merupakan urat nadi perekonomian dan aktivitas warga di suatu wilayah Jakarta Selatan maupun Jakarta Timur. Jika fungsi jembatan tersebut terputus, maka otomatis aktivitas sehari-hari masyarakat dan kegiatan perekonomian menjadi terhenti, serta dapat mengakibatkan kerugian cukup besar bagi warga dan wilayah itu sendiri.

Total alokasi anggaran untuk pembangunan jembatan tersebut tercatat sebesar Rp 58 miliar yang berasal dari APBD DKI Jakarta 2010 dan memakan waktu kurang lebih satu tahun. Jembatan terbentang sepanjang 100 meter dan tinggi 6 meter serta mempunyai kekuatan mampu menahan beban hingga 50 ton. Jembatan lama merupakan aset Kementerian Pekerjaan Umum (PU), nantinya akan dibongkar dan dialihkan ke wilayah lain yang membutuhkan jembatan.

Dinas Pekerjaan Umum (PU) DKI Jakarta mengaku akan memperlebar tanjakan dan turunan di jembatan Kalibata yang baru tersebut. Namun saat ini, pelebaran terkendala persoalan pembebasan lahan. Nantinya jembatan tersebut lebarnya akan sama dengan yang di tengah, 10 meter. Beberapa warga ada yang sudah setuju soal pembebasan lahan tetapi masih ada juga yang belum. Selama belum selesai urusan pembebasan lahannya kita tidak bisa memperlebar jembatan. Ke depannya jalan yang letaknya disamping jembatan hanya digunakan untuk putar balik.Saat ini di jembatan yang baru kondisinya tidak ada pembatas jalan, hal ini dikarenakan jalannya terlalu sempit sehingga pembuatan batas jalan justru akan semakin memperkecil jalan. Untuk sementara digunakan cat untuk pembatasnya, rencana selanjutnya adalah dengan memberi pembatas berupa tiang dan pembatas mata kucing supaya pada malam hari tetap terlihat.

Para sopir angkot mengaku lega dengan dibukanya Jembatan Kalibata. Pasalnya, saat jembatan tersebut ditutup selama berbulan-bulan, waktu tempuh Kampung Melayu-Kalibata bisa sampai satu jam sehingga penumpang pun semakin berkurang. Sekarang dengan adanya Jembatan Kalibata yang baru, Kampung Melayu-Kalibata dicapai hanya dalam waktu 30 menit.

dirangkum dari beberapa sumber





Cegah Rabies, 50 Kucing Di Pancoran Disterilisasi

Kamis, 13 Januari 2011

Guna mengendalikan dan mencegah penyebaran penyakit rabies, sebanyak 50 ekor kucing liar di RW 06 Kalibata, Pancoran, Jakarta Selatan, disterilisasi. Sterilisasi dilakukan Suku Dinas Peternakan dan Perikanan Jakarta Selatan bekerja sama dengan Rumah Sakit Hewan Jakarta dan Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI). Setelah dilakukan sterilisasi, ke-50 kucing liar tersebut akan dikembalikan ke tempat asalnya. Namun, biasanya warga menolak jika kucing liar dikembalikan ke lokasi yang sama.

"Kami sudah berkoordinasi dengan ketua RT dan RW setempat. Kucing-kucing tersebut tetap akan dilepas di lokasi yang sama," ujar Chaidir Taufik, Kepala Suku Dinas Peternakan dan Perikanan Jakarta Selatan, Selasa (11/1/2011).Chaidir Taufik mengatakan, pertumbuhan populasi kucing sangat cepat. Saat ini diperkirakan ada 49.000 ekor kucing di DKI. Tahun depan jumlahnya bisa meningkat 200 persen. "Untuk itu, sterilisasi terhadap kucing itu perlu dilakukan. Dalam satu tahun kucing dapat beranak hingga dua kali," kata Chaidir. Pada 2010 lalu, kata Chaidir, sebanyak 300 ekor kucing liar di Jaksel berhasil disterilisasi. Sebagai tanda kucing liar yang sudah disterilisasi, ujung telinga bagian kiri dipotong selebar 0,5 sentimeter. "Sterilisasi ini diharapkan dapat menekan populasi kucing yang sudah mencapai ribuan," ujarnya. Dikatakan Chaidir, sejak 2004 silam Jakarta sudah dinyatakan bebas rabies. Namun, mempertahankan predikat tersebut cukup sulit. Jakarta sendiri masih dikelilingi oleh daerah endemi rabies, seperti Sukabumi, Tangerang, dan Cirebon. Sementara itu, tambah Chaidir, lalu lintas hewan penular rabies seperti kucing, anjing, dan kera di Jakarta masih cukup tinggi. Bahkan dalam satu hari konsumsi anjing di Jakarta bisa mencapai 150 ekor. "Jadi bukan tidak mungkin ada hewan yang positif rabies masuk Jakarta," ujarnya.

Di Jakarta Selatan selama 2010 telah dilakukan vaksinasi rabies terhadap 1.956 hewan penular rabies. Sebanyak 1.956 hewan tersebut berasal dari 875 pemilik hewan. Rinciannya, 1.621 ekor anjing, 286 ekor kucing, dan 49 ekor kera. "Vaksinasi rabies kami lakukan door to door ke warga yang memiliki peliharaan," ujarnya.

sumber: megapolitan.kompas.com

Masyarakat Rawajati Sukses dengan Tasake (Tabungan Sampah Kering)

Rabu, 12 Januari 2011

Untuk kesekian kalinya, TP PKK DKI Jakarta kembali menggelar kegiatan roadshow pemberdayaan keluarga. Kali ini, roadshow dipusatkan di RW 03 Kelurahan Rawajati, Pancoran, Jakarta Selatan. Kegiatan yang menitikberatkan pada program pemberdayaan keluarga ini dimeriahkan pula oleh puluhan stand hasil kerajinan warga sekitar. Yang menarik, dalam roadshow kali ini, Ketua TP PKK DKI Jakarta, Tatiek Fauzi Bowo meresmikan pengelolaan Tabungan Sampah Kering (Tasake) di RW 03, Rawajati, Pancoran, Rabu (12/1).

Tasake sendiri sebenarnya telah didirikan sejak tahun 2010 lalu, hanya saja peresmiannya baru dilakukan di awal tahun 2011 ini. Tidak hanya warga sekitar, warga di luar RW 03 pun dapat menabung sampah yang dikumpulkan melalui Tasake.

Sampah yang dapat ditabungkan di Tasake, di antaranya yakni koran, kardus, kaleng, alumunium, perabot rumah tangga, gelas plastik, serta buku atau majalah. Nantinya, warga yang menabung akan mendapatkan buku tabungan dan uang yang dapat diambil setiap bulan. "Barang-barang bekas ini akan dijual ke lapak dan akan menghasilkan uang," kata Ema Waryoto, pengurus Tasake, Rabu (12/1).

Dalam prakteknya, dikatakan Ema, untuk menabung sampah pihaknya menjadwalkan tiga kali dalam sepekan. Yakni, setiap Selasa, Kamis dan Sabtu sejak pukul 08.00-10.00. Hingga saat ini, tercatat sudah 50 warga yang menjadi nasabah Tasake. “Ada pengurus yang piket untuk menerima sampah yang akan ditabungkan warga,” ungkapnya.

Ia berharap, ke depan akan semakin banyak nasabah Tasake. Sebab, dengan tabungan ini, masyarakat juga diajarkan untuk tidak membuang sampah sembarangan dan memilih untuk mengumpulkan dan menjadikan uang kembali. "Sekarang anak sekolah setelah minum air kemasan tidak langsung dibuang tapi dikumpulkan," katanya.

Ketua TP PKK DKI Jakarta, Tatiek Fauzi Bowo menyambut baik kegiatan pengelolaan sampah yang dilakukan warga melalui Tasake. “Program ini jelas ikut membantu Pemprov DKI Jakarta dalam menjaga lingkungan dan menanggulangi sampah,” ungkap Tatiek.

Pada kesempatan ini, Tatiek kembali menegaskan pentingnya membentuk forum komunikasi pemberdayaan keluarga. Sedangkan untuk RW binaan tetap dimonitor oleh TP PKK setempat. "Untuk RW binaan PKK akan tetap memonitor apa yang telah dikembangkan," tuturnya.

Dikatakan Tatiek, untuk 2011 ini, pihaknya tetap memfokuskan pada forum komunikasi di setiap RW. Pasalnya, dengan forum itu dapat membantu pemberdayaan masyarakat. "Masing-masing mempunyai potensi dan akan menyusun program kerjanya mulai dari sekarang," tambahnya.

Tatiek juga berpesan, dengan cuaca ekstrim yang sedang terjadi di ibu kota, masyarakat diharapkan untuk tetap menjaga lingkungan, khususnya dalam hal kebersihan. "Dengan tetap menjaga lingkungan diharapkan dapat meminimalisir banjir di Jakarta," pesannya.

sumber : BERITAJAKARTA.COM

MUSRAN serentak 6 DPRa PKS di Kecamatan Pancoran : 80 Persen Korte akan Terbentuk di Pancoran

Tindak lanjut acara MUSCAB yang telah berlangsung pada 1 Januari 2011, adalah acara MUSRAN yang mana merupakan ajang untuk menetapkan BPH DPRa PKS di kecamatan Pancoran. Beberapa pekan sebelumnya pengurus DPRa sebelumnya telah sukses melakukan proses penjaringan nama – nama bakal calon pengurus DPRa akan datang di wilayah warga DPRa nya. Acara MUSRAN tersebut berlangsung pada hari ahad, 9 januari 2011 dari jam 09.00 sampai 11.30.

Ketua DPC PKS Pancoran yang baru, Furqoni Yudhistira dalam sambutannya mengemukakan kembali visi dan misi PKS, target serta KPI yang harus diraih di beberapa waktu ke depan. Salah satu target yang diamanahkan kepada kepengurusan baru adalah 80 persen korte harus terbentuk di kecamatan Pancoran. Para peserta dengan antusias mendengarkan sambutan dan arahan dari ketua DPC yang berlangsung sekitar 20 menit. Kemudian acara pun dilanjutkan dengan prosesi penyerahan laporan kerja DPRa yang lama kepada Ketua DPC.

Taujih pada kegiatan MUSRAN serentak ini, disampaikan oleh Ust. Nasir Jamil, S.Ag.
Dalam sambutannya beliau menuturkan tentang pentingnya mengemban amanah apapun dengan berjamaah (bersama – sama), maka yang berat pun akan terasa ringan dan yang sulit pun akan terasa mudah.

Tibalah saatnya pembacaan nama – nama BPH DPRa se- kecamatan Pancoran. Berikut nama – nama ketua DPRa PKS Pancoran periode 2011 – 2012.

Ketua DPRa Cikoko : Dedi Apriyanto
Ketua DPRa Durentiga : Ahmad Ubaidillah
Ketua DPRa Kalibata : M. Isnaeni Hamid
Ketua DPRa Pancoran : Ferdinan
Ketua DPRa Pengadegan : Mush’ab
Ketua DPRa Rawajati : Irfan Aulia

Kini generasi baru telah tiba, semangat baru telah dinyalakan oleh karenanya tinggal doa dan dukungan kita harus lakukan. Selamat dan sukses untuk para pengurus DPRa yang baru, selamat menjalankan amanah dengan ikhlash dan istiqomah.

Masjid Al Inabah Pancoran Menjadi yang Terbaik di Jakarta Selatan

Rabu, 05 Januari 2011


Masjid sebagai tempat ibadah, bila dikelola dengan baik ternyata juga mampu difungsikan sebagai organisasi sosial yang bermanfaat untuk umat. Hal inilah yang coba dikembangkan di Masjid Jami Al Inabah, Pancoran, Jakarta Selatan.

Masjid yang awalnya adalah sebuah mushala yang didirikan pada tahun 1946 ini mampu mengelola sebuah organisasi sosial dengan baik. Pada tahun 2007 yang lalu, pengurus masjid ini mendirikan yayasan dengan nama Yayasan Masjid Jami Al Inabah.

Yayasan ini sudah menaungi berbagai bidang, mulai dari pendidikan, sosial, kesehatan, ekonomi, hingga bidang ubudiyah yang mengurusi perihal ritual keagamaan. Di bidang pendidikan, masjid ini efektif menyelenggarakan kursus bahasa Inggris, Arab, kursus komputer, dan kursus seni baca shalawat.

Selain itu, setiap tahunnya, yayasan masjid ini juga rutin mengirim dua orang anak ke pesantren dengan tujuan membentuk calon-calon ulama. Bantuan pendidikan pun senantiasa diberikan, sudah lebih dari 52 orang anak yang mendapatkan bantuan pembayaran SPP.

Yayasan Masjid Jami Al Inabah juga bergerak dalam bidang sosial melalui pemberian bantuan beras kepada para fakir miskin sekitar masjid. Lalu juga ada kegiatan pembinaan para muallaf. Kadang yayasan Al Inabah juga sering membantu Ibnu Sabil (orang yang kehilangan uang) agar bisa pulang kembali ke rumahnya.

Program pengobatan gratis, serta koperasi syariah simpan pinjam juga dilakukan oleh yayasan masjid Al Inabah. Yayasan Masjid Jami Al Inabah juga mempunyai bidang penelitian dan pengembangan yang bertugas memonitor kegiatan bidang-bidang lainnya.
Beragam kegiatan sosial yang dilakukan oleh yayasan masjid ini pun membuahkan hasil. Tahun 2010 mereka berhasil menjadi juara 1 sebagai organisasi sosial terbaik se-Jakarta Selatan. Di tahun sebelumnya pun mereka berhasil menjadi juara 3 organisasi sosial terbaik se-DKI Jakarta. Padahal yayasan ini baru efektif menyelenggerakan kegiatan sosial ini sejak dua tahun lalu. Karena sebelumnya hanya berkonsentrasi pada upaya pembangunan masjid.

Pada saat Ramadhan tiba, berbagai kegiatan pun marak dilakukan, seperti acara buka puasa bersama setiap hari, tadarus setiap malam dan kuliah subuh juga dilakukan sepanjang Ramadan.

sumber : www.detik.com

MUSCAB PKS Pancoran : Semangat Baru untuk Membangun Jakarta

Senin, 03 Januari 2011

Hajatan besar di Pancoran, Musyawarah Cabang (MUSCAB) PKS telah berlangsung sukses. Acaranya berlangsung pada hari Sabtu, 1 Januari 2011 dari pukul 07.30 sampai 15.30. Ketua DPC periode yang lalu, Rizaludin, ST dalam laporannya telah membacakan laporan kerjanya kemudian dilanjutkan dengan penyerahan laporan kerja DPC ke BPH DPD PKS Jakarta Selatan. Acara MUSCAB juga dimeriahkan oleh lomba anak – anak seperti mewarnai, balap karung dan lari bendera, kemudian ditambah lagi dengan adanya stand bazaar kader.

MUSCAB PKS Pancoran dihadiri oleh Ka DPD, SekCam, DPTW, Kader dan masyarakat. Masyarakat dan peserta MUSCAB dengan hikmad menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars PKS. Berbagai sambutan disampaikan oleh Ka. DPC periode yang lalu, Sekretaris Kecamatan (Sekcam) Pancoran, dan ketua DPD PKS Jaksel. Sekcam dalam sambutannya mengatakan bahwa selama ia berpindah – pindah tugas, ia selalu melihat antusiasme dan kepedulian dari PKS yang tidak pernah putus dan aksi kader – kader PKS nyata membantu masyarakat di lapangan.

Acara Sidang Pembukaan, dilakukan langsung oleh Ketua DPD Ust. Khairudin yang dilanjutkan dengan acara pemberian santunan kepada anak - anak yatim. Rapat komisi dan pleno menghasilkan beberapa target dan KPI yang harus dicapai oleh pengurusan DPC dan DPRa yang akan datang, salah satu yang diamanahkan oleh para peserta sidang (MUSCAB) adalah meraih kemenangan di Kecamatan Pancoran di 2012 maupun 2014. Taujih juga datang dari DPTW DKI Jakarta, Ust. Sani.

Giliran tiba saatnya perwakilan BPH DPD, Ust. Prima dan Ust. Mansyur membacakan nama – nama Pengurus Baru PKS Pancoran periode 2011 – 2013. Posisi Ketua adalah Furqoni Yudhistira, Sekretaris Andrian S, Bendahara Karim Santoso, S.Pd, M.Si , dan Kaderisasi Rizaludin. Seusai pembacaan pengurus baru, para penguruspun kemudian melaksanakan pembacaan sumpah dan penandatanganan berita acara. Para peserta pun kemudian menyalami para pengurus BPH terpilih. Acara ditutup jam 15.30, seiring dengan azan Ashar berkumandang di Masjid Baitussalam.

























Caleg DPR RI Dapil DKI Jakarta

Caleg DPR RI Dapil DKI Jakarta

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

 

© Copyright PKS DPC Pancoran - Jakarta Selatan | Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com | Redesign by PKS DPC Pancoran